BAB I
Pendahuluan
A.
LATAR BELAKANG
Hipertensi
adalah peningkatan tekanan darah sehingga tekanan sistolik > 140 mmHg dan
tekanan diastolik > 90 mmHg (Kee & Hayes).Tekanan Darah (TD)
didistribusikan terus menerus, tidak ada definisi absolut untuk hipertensi
(Davey).Obat antihipertensi adalah obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan
darah tingggi hingga mencapai tekanan darah normal.Semua obat antihipertensi
bekerja pada satu atau lebih tempat kontrol anatomis dan efek tersebut terjadi
dengan mempengaruhi mekanisme normal regulasi TD.
Hipertensi dalam kehamilan merupakan
5-15% penyulit kehamilan dan merupakan satu dari tiga penyebab tertinggi
mortalitas dan morbiditas ibu bersalin.
Apapun yang seorang wanita hamil
makan atau minum dapat memberikan pengaruh pada janinnya. Hipertensi
dalam kehamilan dapat dialami oleh setiap lapisan ibu hamil sehingga
pengetahuan tentang pengelolaan hipertensi dalam kehamilan harus banar-benar dipahami
oleh semua tenaga medik baik pusat maupun daerah.
Obat
Antikonvulsi (Anti Epilepsi) Obat yang dapat menghentikan
penyakit ayan, yaitu suatu penyakit gangguan syaraf yang ditimbul secara
tiba-tiba dan berkala, adakalanya disertai perubahan-perubahan kesadaran.
Digunakan terutama untuk mencegah dan mengobati epilepsi. Golongan obat ini
lebih tepat dinamakan Anti Epilepsi, sebab obat ini jarang digunabkan untuk
gejala konvulsi penyakit lain.
B.RUMUSAN MASALAH
ü Apa Jenis
Obat Antihipertensi?
ü
Apa yang dimaksud obat Antikonvulsi ?
ü
Apa yang dimaksud obat Antipiretik ?
C.TUJUAN
ü Mengerti Jenis Obat Antihipertensi?
ü
Mengerti yang dimaksud
dengan obat Antikonvulsi ?
ü
Mengerti yang dimaksud
dengan obat Antipiretik ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. HIPERTENSI
Definisi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah
tekanan darah di atas 140/90mmHg (WHO).
|
Klasifikasi
|
Sistol
(mmHg)
|
Diastol
(mmHg)
|
|
Normal
|
<120
|
<80
|
|
Prehipertensi
|
120-139
|
80-90
|
|
Hipertensi
Tingkat 1
|
140-159
|
90-100
|
|
Hipertensi
Tingkat 2
|
>160
|
>100
|
(Klasifikasi tekanan darah untuk
usia 18 tahun atau lebih berdasarkan JNC VII, 2003)
Masa kehamilan adalah kondisi yang memerlukan perhatian khusus akan
kesehatan ibu dan janin atau bayi. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai
adalah hipertensi.Hipertensi merupakan penyakit umum yang didefinisikan secara
sederhana sebagai peningkatan tekanan darah. Penyakit tersebut dapat menjadi
penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian baik pada ibu dan janin/ bayi
yang dilahirkan. Wanita hamil dengan hipertensi memiliki resiko terjadinya
komplikasi lebih, seperti penyakit pembuluh darah dan organ, sedangkan janin
atau bayi berisiko terkena komplikasi penghambatan pertumbuhan. Oleh karena
itu, perlu adanya penatalaksanaan khusus pada ibu hamil. Sebagian besar ibu hamil tidak menyadari bahwa mereka mengalami
hipertensi karena ibu hamil terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala yang
spesifik.
Oleh karena itu diperlukan monitoring terhadap tekanan darah, yang dapat
diukur menggunakan tensimeter. Pada kehamilan normal tekanan sistolik sedikit
berubah, sedangkan tekanan diastolik menurun kurang lebih 10 mmHg pada awal
kehamilan (minggu ke 13-20) dan akan naik kembali pada trimester ketiga. Anief,
Moh, 1996
Hipertensi
pada kehamilan digambarkan sebagai kondisi dengan variasi tekanan darah yang
besar. Dalam melakukan penatalaksanaan ini, perlu dipahami klasifikasi
hipertensi pada kehamilan. “Menurut
laporan National High Blood Pressure Education Program Working Group tahun
2000” tentang hipertensi pada kehamilan, terdapat klasifikasi hipertensi
pada ibu hamil yaitu hipertensi kronik, hipertensi gestasional, dan
preeklamsia. Diagnosis hipertensi kronik didasarkan pada riwayat hipertensi
sebelum kehamilan atau kenaikan tekanan darah lebih besar atau sama dengan
140/90 mmHg sebelum kehamilan minggu ke-20 dengan minimal dua kali pengukuran
menunjukkan hasil yang relatif sama.
Hipertensi kronik sendiri dibagi menjadi dua yaitu hipertensi kronik ringan
dengan tekanan diastolik kurang dari 110 mmHg dan hipertensi kronik parah
dengan tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih.
Wanita hamil dengan hipertensi kronik ini dapat meningkatkan resiko
terjadinya preeklamsia, pengasaran plasenta, morbiditas dan mortalitas bayi,
penyakit kardiovaskuler dan ginjal. Hipertensi gestasional sendiri merupakan
perkembangan peningkatan tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg
tanpa gejala preeklamsia, setelah kehamilan minggu ke-20. Umumnya tekanan darah
akan kembali normal tanpa terapi obat. Preeklamsia digambarkan sebagai kejadian
hipertensi, udem, dan proteinuria (protein dalam urin) setelah kehamilan minggu
ke-20 dengan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg.
Preeklamsia dapat dibagi menjadi preeklamsia ringan dan parah. Preeklamsia
disebabkan oleh kegagalan perpindahan trompoblastik ke arteri uterus sehingga
terjadi kerusakan pada plasenta dan kegagalan adaptasi sistem kardiovaskuler
(peningkatan volume plasma dan penurunan resistensi pembuluh sistemik).
Perubahan tersebut menyebabkan pengurangan perfusi pada plasenta, ginjal,
liver, dan otak. Resiko preeklamsia pada ibu hamil adalah kejang, hemoragi
otak, pengasaran plasenta, udem pada paru, gagal ginjal, hemoragi hati dan
kematian. Pada bayi dapat beresiko pertumbuhan yang lambat, hipoksemia, asidosis,
prematur, dan kematian. Oleh
karena hipertensi kronik ini dapat berkembang menjadi preeklamsia atau lebih
parah, maka deteksi dini dan pengobatan pada keadaan ini diperlukan. Sasaran
terapi dalam pengobatan hipertensi kronik pada kehamilan adalah tekanan darah.
Tujuan terapi adalah untuk
menurunkan tekanan darah pada level tekanan darah diastolik dibawah 110 mmHg,
yang akan mengurangi morbiditas dan mortalitas, menurunkan insiden preeklamsia,
pengasaran plasenta, kematian janin/ bayi dan ibu, komplikasi strok dan
kardiovaskuler. Strategi terapi dapat dilakukan dengan terapi nonfarmakologi
maupun terapi farmakologi. Terapi nonfarmakologis merupakan terapi tanpa obat
yang umum dilakukan pada wanita hamil, terutama pada hipertensi kronik ringan
(tekanan diastolik kurang dari 110 mmHg). Penatalaksanaan yang dilakukan antara
lain pembatasan aktivitas, banyak istirahat, pengawasan ketat, pembatasan
konsumsi garam, mengurangi makan makanan berlemak, tidak merokok, dan
menghindari minuman beralkohol.
Dari beberapa obat yang telah disebutkan diatas,
metildopa merupakan obat pilihan utama untuk hipertensi kronik parah pada
kehamilan (tekanan diastolik lebih dari 110 mmHg) yang dapat menstabilkan
aliran darah uteroplasenta dan hemodinamik janin. Obat ini termasuk golongan
α2-agonis sentral yang mempunyai mekanisme kerja dengan menstimulasi reseptor
α2-adrenergik di otak. Stimulasi ini akan mengurangi aliran simpatik dari pusat
vasomotor di otak. Pengurangan aktivitas simpatik dengan perubahan parasimpatik
akan menurunkan denyut jantung, cardiac output, resistensi perifer, aktivitas
renin plasma, dan refleks baroreseptor. Metildopa aman bagi ibu dan anak,
dimana telah digunakan dalam jangka waktu yang lama dan belum ada laporan efek
samping pada pertumbuhan dan perkembangan anak.
C.
Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Penyebabnya
1. Hipertensi
Esensial/ Primer
Usia, stress
psikologis, dan hereditas (keturunan). Sekitar 90%.
2.
Hipertensi Sekunder
Kelainan pembuluh darah ginjal,
gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid), penyakit adrenal. Sekitar 10%.
D.
Klasifikasi “OBAT ANTI HIPERTENSI” dan berdasarkan pada tempat regulasi utama
atau titik tangkap kerjanya
1.
DIURETIK
Bekerja
melalui berbagai mekanisme untuk mengurangi curah jantung dan menyebabkan
ginjal meningkatkan ekskresi garam dan air.
v Khasiat antihipertensi diuretik :
adalah berawal dari efeknya
meningkatkan ekskresi natrium, klorida, dan air, sehingga mengurangi volume
plasma dan cairan ekstrasel. TD turun akibat berkurangnya curah jantung,
sedangkan resistensi perifer tidak berubah pada awal terapi. Pada pemberian
kronik, volume plasma kembali tetapi masih kira-kira 5% dibawah nilai sebelum
pengobatan. Curah jantung kembali mendekati normal.TD tetap turun karena
sekarang resistensi perifer menurun. Vasodilatasi perifer yang terjadi kemudian
tampaknya bukan efek langsung tiazid tetapi karena adanya penyesuaian pembuluh
darah perifer terhadap pengurangan volume plasma yang terus-menerus.
Kemungkinan lain adalah berkurangnya volume cairan interstisial berakibat
berkurangnya kekakuan dinding pembuluh darah dan bertambahnya daya lentur
(compliance) vaskular.
A. DIURETIK TIAZID
Menghambat reabsorpsi natrium dan klorida pada pars asendens
ansa henle tebal, yang menyebabkan diuresis ringan. Suplemen kalium mungkin
diperlukan karena efeknya yang boros kalium.
1) (
TABLET HYDROCLOROTHIAZIDE ( HTC ) )
Golongan
obat antihipertnsi ini merupakan obat antihipertensi yang prosesnya melalui
pengeluaran cairan tubuh via urin. Golongan antihipertensi ini cukup cepat
menurunkan tekanan darah namun dengan prosesnya yang melalui pengeluaran
cairan, ada kemungkinan besar potassium ( kalium ) terbuang.
· Sediaan obat : Tablet
· Mekanisme kerja : mendeplesi (mengosongkan) simpanan
natrium sehingga volume darah, curah jantung dan tahanan vaskuler perifer
menurun. Dan menghambat reabsorpsi natrium dan klorida dalam pars asendens ansa
henle tebal dan awal tubulus distal. Hilangnya K+, Na+, dan Cl- menyebabkan
peningkatan pengeluaran urin 3x. Hilangnya natrium menyebabkan turunnya GFR.
· Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik oleh saluran
cerna. Didistribusi keseluruh ruang ekstrasel dan hanya ditimbun dalam jaringan
ginjal.
· Indikasi : digunakan untuk mengurangi udema
akibat gagal jantung, cirrhosis hati, gagal ginjal kronis, hipertensi, Obat
awal yang ideal untuk hipertensi, edema kronik, hiperkalsuria idiopatik.
Digunakan untuk menurunkan pengeluaran urin pada diabetes inspidus (GFR rendah
menyebabkan peningkatan reabsorpsi dalam nefron proksimal, hanya berefek pada
diet rendah garam)
· Kontraindikasi : hypokalemia, hypomagnesemia,
hyponatremia, hipertensi pada kehamilan, hiperurisemia, hiperkalsemia,
oliguria, anuria, kelemahan, penurunan aliran plasenta, alergi sulfonamide,
gangguan saluran cerna.
· Tingkat Keamanan Menurut FDA : Katagori C
· Dosis :
o Dewasa 25 –
50 mg/hr
·
Anak 0,5 – 1,0 mg/kgBB/ 12 – 24 jam
B. LOOP DIURETIC
Lebih potensial dibandingkan tiazid dan harus digunakan
dengan hati-hati untuk menghindari dehidrasi. Obat-obat ini dapat mengakibatkan
hipokalemia, sehingga kadar kalium harus dipantau ketat. (Furosemid/Lasix)
1)
FUROSEMIDE
· Nama paten : Cetasix, farsix, furostic,
impungsn, kutrix, Lasix, salurix, uresix.
· Sediaan obat : Tablet, capsul, injeksi.
· Mekanisme kerja : mengurangi reabsorbsi
aktif NaCl dalam lumen tubuli ke dalam intersitium pada ascending limb of henle
dan menghambat reabsorpsi klorida dalam pars asendens ansa henle tebal. K+
banyak hilang ke dalam urin.
· Indikasi : Diuretik yang dipilih untuk
pasien dengan GFR rendah dan kedaruratan hipertensi. Juga edema, edema paru dan
untuk mengeluarkan banyak cairan. Kadangkala digunakan untuk menurunkan kadar
kalium serum.Edema paru akut, edema yang disebabkan penyakit jantung kongesti,
sirosis hepatis, nefrotik sindrom, hipertensi.
· Kontraindikasi
: wanita hamil
dan menyusui
· Efek samping : pusing.
Lesu, kaku otot, hipotensi, mual, diare. Hiponatremia, hipokalemia, dehidrasi,
hiperglikemia, hiperurisemia, hipokalsemia, ototoksisitas, alergi sulfonamide,
hipomagnesemia, alkalosis hipokloremik, hipovolemia.
· Interaksi obat : indometasin menurunkan efek diuretiknya,
efek ototoksit meningkat bila diberikan bersama aminoglikosid. Tidak boleh
diberikan bersama asam etakrinat. Toksisitas silisilat meningkat bila diberikan
bersamaan.
· Tingkat Keamanan Menurut FDA : Katagori C
· Dosis : Dewasa 40 mg/hr
Anak 2 – 6 mg/kgBB/hr
C. DIURETIK
HEMAT KALIUM
Meningkatkan ekskresi natrium dan
air sambil menahan kalium. Obat-obat ini dipasarkan dalam gabungan dengan
diuretic boros kalium untuk memperkecil ketidakseimbangan kalium.
(Spirinolactone)
1)
AMILORID (MIDAMOR)
· Mekanisme
Kerja : secara langsung meningkatkan ekskresi Na+ menurunkan sekresi K+ dalam
tubulus kontortus distal.
· Indikasi : Digunakan
bersama diuretik lain karena efek hemat K+ mengurangi efek hipokalemik. Dapat
mengoreksi alkalosis metabolik.
· Efek tak
diinginkan : Hiperkalemia, kekurangan natrium atau air. Pasien
dengan diabetes militus dapat mengalami intoleransi glukosa.
· Tingkat
Keamanan Menurut FDA : Katagori C
2) SPIRONOLAKTON
(ALDACTONE)
· Mekanisme
Kerja : antagonis aldosteron (aldosteron menyebabkan retensi Na+). Juga memiliki
jerja serupa dengan amilorid.
· Indikasi : digunakan
dengan tiazid untuk edema (pada gagal jantung kongestif), sirosis, dan sindrom
nefrotik. Juga untuk mengobati atau mendiagnosis hiperaldo-steronisme. Efek tak diinginkan : seperti
amilorid. Juga menyebabkan ketidakseimbangan endokrin (jerawat, kulit
berminyak, hirsutisme, ginekomastia).
· Tingkat Keamanan Menurut FDA : Katagori C
3) TRIAMTERIN
(DYRENIUM)
· Mekanisme
Kerja : secara langsung menghambat reabsorpsi Na+ serta sekresi K+ dan H+ dalam
tubulus koligentes.
· Indikasi : tidak digunakan untuk
hiperaldosteronisme. Lain-lain seperti Spironolakton.
· Efek tak
diinginkan : dapat menyebabkan urin menjadi biru dan menurunkan
aliran darah ginjal. Lain-lain seperti amilorid.
D. DIURETIK OSMOTIK
Menarik
air ke urin, tanpa mengganggu sekresi atau absorpsi ion dalam ginjal.
(Manitol/Resectisol)
1) MANITOL
(MIS. RESECTISOL)
· Mekanisme
kerja : secara osmotic menghambat reabsorpsi natrium dan air. Awalnya menaikkan
volume plasma dan tekanan darah.
· Indikasi : gagal ginjal akut, glaucoma, sudut
tertutup akut, edema otak, untuk menghilangkan kelebihan dosis beberapa obat.
· Efek tak diinginkan : sakit
kepala, mual, muntah, menggigil, pusing, polidipsia, letargi, kebingungan, dan
nyeri dada.
· Tingkat
Keamanan Menurut FDA : Katagori C
2. ANTI ADRENERGIK
Agonis adrenergik meningkatkan tekanan
darah dengan merangsang jantung (reseptor ß1) dan/atau membuat konstriksi
pembuluh darah perifer (reseptor α1). Pada pasien hipertensi, efek adrenergik
dapat ditekan dengan menghambat pelepasan agonis adrenergik atau melakukan
antagonisasi reseptor adrenergik.
a. Penghambat pelepasan adrenergik
prasinaptik;
dibagi menjadi antiadrenergik
“sentral” dan “perifer”. Antiadrenergik sentral mencegah aliran keluar simpatis
(adrenergic) dari otak dengan mengaktifkan reseptor α2 penghambat.
Antiadrenergik perifer mencegah pelepasan norepinefrin dari terminal saraf
perifer (misal yang berakhir di jantung). Obat-obat ini mengosongkan simpanan
norepinefrin dalam terminal-terminal saraf.
b.
Blocker alfa dan beta
bersaing dengan agonis endogen
memperebutkan reseptor adrenergik. Penempatan reseptor α1 oleh antagonis
menghambat vasokontriksi dan penempatan reseptor ß1 mencegah perangsangan
adrenergik pada jantung.
A. ANTAGONIS RESEPTOR BETA
Bekerja pada reseptor Beta jantung
untuk menurunkan kecepatan denyut dan curah jantung.
1)
ASEBUTOL (BETA BLOKER)
· Nama Paten : sacral,
corbutol,sectrazide.
· Sediaan obat : tablet, kapsul.
· Mekanisme kerja : menghambat efek
isoproterenol, menurunkan aktivitas renin, menurunka outflow simpatetik
perifer.
· Indikasi : hipertensi, angina pectoris,
aritmia,feokromositoma, kardiomiopati obtruktif hipertropi, tirotoksitosis.
·
Kontraindikasi : gagal jantung, syok
kardiogenik, asma, diabetes mellitus, bradikardia, depresi.
·
Efek samping : mual, kaki tangan
dingin, insomnia, mimpi buruk, lesu
· Interaksi obat :
memperpanjang keadaan hipoglikemia bila diberi bersama insulin. Diuretic tiazid
meningkatkan kadar trigleserid dan asam urat bila diberi bersaa alkaloid ergot.
Depresi nodus AV dan SA meningkat bila diberikan bersama dengan penghambat
kalsium
· Dosis : 2 x 200 mg/hr (maksimal 800 mg/hr).
· Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
2)
ATENOLOL (BETA BLOKER)
Golongan ini merupakan obat yang dipakai dalam upaya
pengontrolan tekanan darah bekerja dengan melalui proses memperlambat kerja
jantung dan memperlebar pembuluh darah.
· Nama paten : Betablok, Farnomin,
Tenoret, Tenoretic, Tenormin, internolol.
· Sediaan obat : Tablet
· Mekanisme kerja : pengurahan curah
jantung disertai vasodilatasi perifer, efek pada reseptor adrenergic di SSP,
penghambatan sekresi renin akibat aktivasi adrenoseptor di ginjal.
· Indikasi : hipertensi
ringan – sedang, aritmia
· Kontraindikasi : gangguan konduksi AV, gagal jantung
tersembunyi, bradikardia, syok kardiogenik, anuria, asma, diabetes.
· Efek samping : nyeri otot, tangan kaki
rasa dingin, lesu, gangguan tidur, kulit kemerahan, impotensi.
· Interaksi obat : efek
hipoglikemia diperpanjang bila diberikan bersama insulin. Diuretik tiazid
meningkatkan kadar trigliserid dan asam urat. Iskemia perifer berat bila diberi
bersama alkaloid ergot.
· Dosis : 2 x 40 – 80 mg/hr
· Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
3)
METOPROLOL (BETA BLOKER)
·
Nama paten : Cardiocel, Lopresor,
Seloken, Selozok
·
Sediaan obat : Tablet
· Mekanisme kerja : pengurangan curah
jantung yang diikuti vasodilatasi perifer, efek pada reseptor adrenergic di
SSP, penghambatan sekresi renin akibat aktivasi adrenoseptor beta 1 di ginjal.
· Farmakokinetik : diabsorbsi
dengan baik oleh saluran cerna. Waktu paruhnya pendek, dan dapat
diberikan beberapa kali sehari.
· Farmakodinamik : penghambat adrenergic
beta menghambat perangsangan simpatik, sehingga menurunkan denyut jantung dan
tekanan darah. Penghambat beta dapat
menembus barrier plasenta dan dapat masuk ke ASI.
· Indikasi : hipertensi, miokard infard,
angina pektoris
· Kontraindikasi : bradikardia sinus,
blok jantung tingkat II dan III, syok kardiogenik, gagal jantung tersembunyi
· Efek samping : lesu, kaki dan tangan
dingin, insomnia, mimpi buruk, diare
· Interaksi obat : reserpine meningkatkan
efek antihipertensinya
· Dosis : 50 – 100 mg/kg
· Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
4)
PROPRANOLOL (BETA BLOKER)
·
Nama paten : Blokard, Inderal,
Prestoral
·
Sediaan obat : Tablet
· Mekanisme kerja : tidak
begitu jelas, diduga karena menurunkan curah jantung, menghambat pelepasan
renin di ginjal, menghambat tonus simpatetik di pusat vasomotor otak.
· Farmakokinetik : diabsorbsi
dengan baik oleh saluran cerna. Waktu paruhnya pendek, dan dapat
diberikan beberapa kali sehari. Sangat mudah berikatan dengan protein dan akan
bersaing dengan obat – obat lain yang juga sangat mudah berikatan dengan
protein.
· Farmakodinamik : penghambat adrenergic beta
menghambat perangsangan simpatik, sehingga menurunkan denyut jantung dan
tekanan darah. Penghambat beta dapat menembus barrier plasenta dan dapat masuk
ke ASI.
· Indikasi : hipertensi, angina pectoris,
aritmia jantung, migren, stenosis subaortik hepertrofi, miokard infark,
feokromositoma
· Kontraindikasi : syok kardiogenik, asma
bronkial, brikadikardia dan blok jantung tingkat II dan III, gagal jantung
kongestif. Hati – hati pemberian pada penderita biabetes mellitus, wanita
haminl dan menyusui.
· Efek samping : bradikardia, insomnia,
mual, muntah, bronkospasme, agranulositosis, depresi.
· Interaksi obat : hati – hati bila
diberikan bersama dengan reserpine karena menambah berat hipotensi dan kalsium
antagonis karena menimbulkan penekanan kontraktilitas miokard. Henti jantung
dapat terjadi bila diberikan bersama haloperidol. Fenitoin, fenobarbital,
rifampin meningkatkan kebersihan obat ini. Simetidin menurunkan metabolism
propranolol. Etanolol menurukan absorbsinya.
· Dosis : dosis awal 2 x 40 mg/hr,
diteruskan dosis pemeliharaan.
· Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
B.
ANTAGONIS RESEPTOR-ALFA
Menghambat
reseptor alfa diotot polos vaskuler yang secara normal berespon terhadap
rangsangan simpatis dengan vasokonstriksi.
OBAT ANTI
ADREGERNIK SENTRAL.
1) METILDOPA
· Nama Dagang: Dopamet (Alpharma), Medopa (Armoxindo), Tensipas
(Kalbe Farma), Hyperpax (Soho)
· Indikasi: Hipertensi, bersama dengan diuretika, krisis
hipertensi jika tidak diperlukan efek segera.
· Kontraindikasi: depresi, penyakit hati aktif, feokromositoma,
porfiria, dan hipersensitifitas
· Efek samping: mulut kering, sedasi, depresi, mengantuk, diare,
retensi cairan, kerusakan hati, anemia hemolitika, sindrom mirip lupus
eritematosus, parkinsonismus, ruam kulit, dan hidung tersumbat
· Peringatan: mempengaruhi hasil uji laboratorium, menurunkan dosis
awal pada gagal ginjal, disarqankan untuk melaksanakan hitung darah dan uji
fungsi hati, riwayat depresi
· Tingkat
keamanan obat menurut (FDA) : Metildopa
memiliki faktor resiko B pada kehamilan
· Dosis dan aturan pakai: oral 250mg 2 kali sehari setelah makan, dosis
maksimal 4g/hari, infus intravena 250-500 mg diulangi setelah enam jam jika
diperlukan.
OBAT
ANTIADRENERGIK PERIFER
1)
RESERPIN (MIS. SERPASIL)
Mekanisme
kerja : sebagian mengosongkan simpanan katekolamin pada system saraf perifer dan
mungkin pada SSP. Menurunkan resistensi perifel total, frekuensi jantung, dan
curah jantung.
Indikasi : jarang digunakan untuk hipertensi ringan sampai sedang. Tidak dianjurkan pada kelainan psikiatri.
Indikasi : jarang digunakan untuk hipertensi ringan sampai sedang. Tidak dianjurkan pada kelainan psikiatri.
Efek tak
diinginkan : “dominan parasimpatik” (brakikardi, diare,
bronkokonstriksi, peningkatan sekresi), penurunan kontraktilitas dan curah
jantung, hipotensi postural (mengosongkan norepinefrin sehingga menghambat
vasokonstriksi), ulkus peptikum, sedasi, dan depresi bunuh diri, gangguan
ejakulasi, ginekomastia. Risiko hipertensi balik rendah karena durasi kerja
lama.
·
Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
2) GUANETIDIN (MIS. ESIMEL)
Mekanisme
kerja : ditempatkan ke dalam ujung saraf adrenergic. Awalnya melepaskan
norepinefrin (meningkatkan tekanan darah dan frekuensi jantung). Lalu
mengosongkan norepinefrin dari terminal dan mengganggu pelepasannya. Kemudian
tidak terjadi refleks takikardi karena kosongnya norepinefrin.
Indikasi : hipertensi
berat jika obat lain gagal. Jarang digunakan.
Efek tak diinginkan : peningkatan
awal frekuensi jantung dan tekanan darah (disebabkan pelepasan norepinefrin).
Hipotensi ortostatik dan saat istirahat. Brakikardi, menurunnya curah jantung,
dispnea pada pasien PPOM, kongesti hidung berat.
· Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
3) GUANEDREL (HYLOREL)
Mekanisme kerja : seperti guanetidin, tapi bekerja
lebih cepat, melepaskan norepinefrin pada awalnya (peningkatan sementara
tekanan darah), dan mempunyai aktivitas sedikit.
Indikasi : hipertensi
ringan sampai sedang.
Efek tak
diinginkan ; seperti guanetidin tapi kurang berat.
Tingkat
Keamanan Menurut FDA : Kategori C
4).
PARGILIN (EUTONYL)
Mekanisme
kerja : menghambat monoamine oksidase dalam saraf adrenergik. Menghambat pelepasan
norepinefrin.
Indikasi : karena efek
berbahaya, obat ini merupakan obat antihipertensi pilihan terakhir.
Efek tak
diinginkan : efek yang mengancam jiwa (stroke, krisis hipertensi,
infark miokardial, aritmia) dapat terjadi bila diminum bersama makanan (produk
fermentasi, keju) dan obat-obat (pil diet, obat-obat flu) yang mengandung
simpatomimetik. ]
· Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
C. ANTAGONIS KALSIUM
Menurunkan
kontraksi otot polos jantung dan atau arteri dengan mengintervensi influks
kalsium yang dibutuhkan untuk kontraksi. Penghambat kalsium memiliki kemampuan
yang berbeda-beda dalam menurunkan denyut jantung. Volume sekuncup dan
resistensi perifer.
1)
DILTIAZEM (KALSIUM ANTAGONIS)
·
Nama paten : Farmabes, Herbeser,
Diltikor.
·
Sediaan obat : Tablet, kapsul
· Mekanisme kerja : menghambat asupan,
pelepasan atau kerja kalsium melalui slow cannel calcium.
·
Indikasi : hipertensi, angina
pectoris, MCI, penyakit vaskuler perifer.
·
Kontraindikasi : wanita hamil dan
menyusui, gagal jantung.
·
Efek samping : bradikardia, pusing,
lelah, edema kaki, gangguan saluran cerna.
· Interaksi obat : menurunkan denyut
jantung bila diberikan bersama beta bloker. Efek terhadap konduksi jantung
dipengaruhi bila diberikan bersama amiodaron dan digoksin. Simotidin
meningkatkan efeknya.
· Dosis : 3 x 30 mg/hr sebelum makan
·
Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
2)
NIFEDIPIN (ANTAGONIS KALSIUM)
·
Nama paten : Adalat, Carvas,
Cordalat, Coronipin, Farmalat, Nifecard, Vasdalat.
·
Sediaan obat : Tablet, kaplet
·
Mekanisme kerja : menurunkan
resistensi vaskuler perifer, menurunkan spasme arteri coroner.
·
Indikasi : hipertensi, angina yang
disebabkan vasospasme coroner, gagal jantung refrakter.
·
Kontraindikasi : gagal jantung
berat, stenosis berat, wanita hamil dan menyusui.
·
Efek samping : sakit kepala,
takikardia, hipotensi, edema kaki.
· Interaksi obat : pemberian bersama beta
bloker menimbulkan hipotensi berat atau eksaserbasi angina. Meningkatkan
digitalis dalam darah. Meningkatkan waktu protombin bila diberikan bersama
antikoagulan. Simetidin meningkatkan kadarnya dalam plasma.
· DOSIS : 3 X 10 MG/HR
· Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
3)
VERAPAMIL (ANTAGONIS KALSIUM)
· Nama paten : Isoptil
· Sediaan obat : Tablet, injeksi
· Mekanisme kerja : menghambat masuknya
ion Ca ke dalam sel otot jantung dan vaskuler sistemik sehingga menyebabkan
relaksasi arteri coroner, dan menurunkan resistensi perifer sehingga menurunkan
penggunaan oksigen.
· Indikasi : hipertensi, angina pectoris,
aritmia jantung, migren.
· Kontraindikasi : gangguan
ventrikel berat, syok kardiogenik, fibrilasi, blok jantung tingkat II dan III,
hipersensivitas.
· Efek samping : konstipasi, mual,
hipotensi, sakit kepala, edema, lesu, dipsnea, bradikardia, kulit kemerahan.
· Interaksi obat : pemberian bersama beta
bloker bias menimbulkan efek negative pada denyut, kondiksi dan kontraktilitas
jantung. Meningkatkan kadar digoksin dalam darah. Pemberian bersama
antihipertensi lain menimbulkan efek hipotensi berat. Meningkatkan kadar karbamazepin,
litium, siklosporin. Rifampin menurunkan efektivitasnya. Perbaikan kontraklitas
jantung bila diberi bersama flekaind dan penurunan tekanan darah yang berate
bila diberi bersama kuinidin. Fenobarbital nemingkatkan kebersihan obat ini.
· Dosis : 3 x 80 mg/hr
· Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
3. VASODILATOR
Contoh vasodilator antara lain:
a.
Penghambat
angiotensin converting enzyme (ACE)
Menekan sintesis angiotensin II, suatu vasokonstriktor
poten. Selain itu, penghambat ACE dapat menginduksi pembentukan vasodilator
dalam tubuh.
A. ACE INHIBITOR
Berfungsi untuk menurunkan
angiotensin II dengan menghambat enzim yang diperlukan untuk mengubah
angiotensin I menjadi angiotensin II. Hal ini menurunkan tekanan darah baik
secara langsung menurunkan resisitensi perifer. Dan angiotensin II diperlukan
untuk sintesis aldosteron, maupun dengan meningkatkan pengeluaran netrium
melalui urine sehingga volume plasma dan curah jantung menurun.
1)
KAPTOPRIL
· Nama paten : Capoten, Zestril
· Sediaan obat : Tablet
· Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga
menurunkan angiotensin II yang berakibat menurunnya pelepasan renin dan
aldosterone.dan menghambat ACE pada paru-paru, yang mengurangi sintesis
vasokonstriktor, angiotensin II. Menekan aldosteron, mengakibatkan natriuesis.
Dapat merangsang produksi vasodilator (bradikinin, prostaglandin).
· Indikasi : hipertensi, gagal jantung. hipertensi, terutama berguna
untuk hipertensi dengan rennin tinggi. Obat yang disukai untuk pasien
hipertensi dengan nefropatidiabetik karena kadar glukosa tidak dipengaruhi.
· Kontraindikasi : hipersensivitas, hati – hati pada penderita dengan
riwayat angioedema dan wanita menyusui. Dan semua penghambat ACE : dosis
pertama hipotensi, pusing, proteinuria, ruam, takikardi, sakit kepala. Kaptopril
jarang menyebabkan agrunolositosis atau neutropenia.
· Dosis : 2 – 3 x 25 mg/hr.
· Tingkat keamanan obat menurut (FDA) : Meskipun ACE Inhibitor dan
ARBs memiliki factor resiko kategori C pada
kehamilan trimester satu, dan kategori D pada trimester dua dan tiga
· Efek samping : batuk, kulit kemerahan, konstipasi, hipotensi,
dyspepsia, pandangan kabur, myalgia.
· Interaksi obat : hipotensi bertambah bila diberikan bersama
diuretika. Tidak boleh diberikan bersama dengan vasodilator seperti
nitrogliserin atau preparat nitrat lain. Indometasin dan AINS lainnya
menurunkan efek obat ini. Meningkatkan toksisitas litium.
2)
RAMIPRIL
·
Nama paten : Triatec
·
Sediaan obat : Tablet
· Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi
angiotensin sehingga perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II terganggu,
mengakibatkan menurunnya aktivitas vasopressor dan sekresi aldosterone.
· Indikasi : hipertensi
· Kontraindikasi : penderita dengan riwayat angioedema,
hipersensivitas. Hati – hati pemberian pada wanita hamil dan menyusui.
· Dosis : awal 2,5 mg/hr
· Tingkat keamanan obat menurut (FDA) :
kategori C pada kehamilan trimester
satu, dan kategori D pada trimester dua dan tiga .namun obat tersebut berpotensi menyebabkan tetatogenik.
· Efek samping : batuk, pusing, sakit
kepala, rasa letih, nyeri perut, bingung, susah tidur.
· Interaksi obat : hipotensi bertambah
bila diberikan bersama diuretika. Indometasin menurunkan efektivitasnya.
Intoksitosis litiumm meningkat.
BLOCKER PINTU MASUK KALIUM
Mencegah influks kalsium ke dalam sel-sel otot dinding
pembuluh darah. Otot polos
membutuhkan influks kalsium ekstrasel untuk kontraksinya.
Blockade influks kalsium mencegah kontraksi, yang menyebabkan vasodilatasi.
C. VASODILATOR
LANGSUNG
Merelaksasi sel-sel otot polos yang mengelilingi pembuluh
darah dengan mekanisme yang belum jelas, tetapi mungkin melibatkan pembentukan
nitrik oksida oleh endote vascular.
1)
Hidralazin
· Nama paten : Aproseline
· Sediaan obat : Tablet
· Mekanisme kerja : merelaksasi otot
polos arteriol sehingga resistensi perifer menurun, meningkatkan denyut
jantung.
·
Indikasi : hipertensi, gagal
jantung.
·
Kontraindikasi : gagal ginjal,
penyakit reumatik jantung.
·
Dosis : 50 mg/hr, dibagi 2 – 3
dosis.
· Tingkat keamanan obat menurut (FDA) :
· Efek samping : sakit kepala,
takikardia, gangguan saluran cerna, muka merah, kulit kemerahan.
·
Interaksi obat : hipotensi berat
terjadi bila diberikan bersama diazodsid.
· Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
2)
DIAZOKSID (HYPERSTAT)
·
Mekanisme kerja : menurunkan
resistensi vascular perifer, mungkin dengan mengantagonis kalsium. Juga
meningkatkan kadar glukosa serum dengan menekan pelepasan insulin dan
meningkatkan pelepasan glukosa hati.
·
Indikasi : kontrol
jangka pendek hipertensi berat di rumah sakit. Hipoglikemia akibat
hiperinsulinisme yang refrakter terhadap bentuk pengobatan lain.
·
Efek tak diinginkan : retensi
air dan natrium dan efek kardiovaskular yang disebabkannya. Hiperglikemia,
gangguan saluran cerna, hirsurisme, efek samping skstrapiramidal.
· Tingkat
Keamanan Menurut FDA : Kategori C
5 NAMA OBAT ANTI HIPERTENSI YANG
BEREDAR DI PASARAN
Tabel (Deuritik)
|
GolonganObat
|
Merek dagang
|
Indikasi
|
Kontraindikasi
|
Efek tak
diharapkan
|
|
Tiazid
|
Hydrodiuril
|
Ideal
untuk hipertensi, dan edema-kronik
|
Ibu hamil,
anuria
|
Hipokalemia,
Hiperglikemi,Oliguria,
anuria, hiperkalsemia
|
|
Loop
diuretic
|
Lasik (furosemid)
|
Untuk
darurat hipertensi, edema, dan edema paru
|
Kekurangan
elektrolit, anuria
|
Dehidrasi,
hipokalemia, hiperglikemi, hipovolemia
|
|
Antagonis
reseptor aldosteron
|
Midamor
(amilorid)
|
Dapat
mengoreksi alkalosis metabolic
|
Hiperkalemia
berat dengan suplemen kalsium
|
Hiperkalemia,
kekurangan natrium atau air
|
Tabel (Simpatolitik)
|
Golongan
Obat
|
Merek
dagang
|
Indikasi
|
kontraindikasi
|
Efek tak
diharapkan
|
|
α –
blocker
|
Klonidin
(Catapresan)
|
Baik untuk
hipertensi
|
Bradikardi,hipotensi,sindrom
simpul sinus
|
Mulut
kering, hipotensi, bradikardi, sedasi
|
|
β –
blocker
|
Atenolol
(Tenormin)
|
Baik untuk
hipertensi ringan dan sedang
|
Diabetes
berat, bradikardi, gagal jantung, asma
|
Depresi
dan sedasi susunan saraf pusat
|
Tabel (Penghambat Angiotensin)
|
GolonganObat
|
Merek
Dagang
|
Indikasi
|
kontraindikasi
|
Efek tak
diharapkan
|
|
ACE
inhibitor
|
Kaptopril
(Capoten)
|
Hipertensi
dengan renin tinggi,
|
Hipotensi,
pusing, ruam, takikardi
|
|
|
ARB
|
Losartan
(Lozaar)
|
Hipertensi
esensial
|
Gangguan
fungsiginjal, anak-anak, kehamilan, masa menyusui
|
Vertigo,
ruam kulit, gangguan ortostatik
|
Tabel (Vasodilatator)
|
Golongan
Obat
|
Merek
dagang
|
Indikasi
|
kontraindikasi
|
Efek tak
diharapkan
|
|
Hidralazin
|
Apresoline
|
Hipertensi
sedang
|
Penyakit
jantung iskemik
|
Retensi
cairan, palpitasi, refleks takikardi
|
|
Monoksidil
|
Loniten
|
Hipertensi
yang belum terkontrol
|
Penyakit
jantung iskemik
|
Lesi otot
jantung, hidralazin, hirsutisme,
|
|
Nitroprusid
|
Nipride
|
Krisis
hipertensi
|
Hipotensi
berat, hepatotoksisitas
|
B. OBAT ANTIKONVULSI (ANTI EPILEPSI)
Obat yang dapat menghentikan penyakit ayan, yaitu suatu
penyakit gangguan syaraf yang ditimbul secara tiba-tiba dan berkala, adakalanya
disertai perubahan-perubahan kesadaran. Digunakan terutama untuk mencegah dan
mengobati epilepsi. Golongan obat ini lebih tepat dinamakan Anti Epilepsi,
sebab obat ini jarang digunabkan untuk gejala konvulsi penyakit lain.
1. Definisi
Epilepsi (Anti konvulsi)
Epilepsi adalah nama umum untuk sekelompok gangguan atau penyakit susunan saraf
pusat yang timbul spontan dengan episode singkat (disebut Bangkitan atau
Seizure), dengan gejala utama kesadaran menurun sampai hilang.
Bangkitan ini biasanya disertai kejang (Konvulsi),
hiperaktifitas otonomik, gangguan sensorik atau psikis dan selalu disertai
gambaran letupan EEG obsormal dan eksesif. Berdasarkan gambaran EEG,
apilepsi dapat dinamakan disritmia serebral yang bersifat paroksimal.
2. Jenis – Jenis Epilepsi
2. Jenis – Jenis Epilepsi
v Grand mal (tonik-tonik umum )
Timbul
serangan-serangan yang dimulai dengan kejang-kejang otot hebat dengan pergerakan
kaki tangan tak sadar yang disertai jeritan, mulut berbusa,mata membeliak dan
disusul dengan pingsan dan sadar kembali.
v Petit mal
Serangannya
hanya singkat sekali tanpa disertai kejang.
v Psikomotor (serangan parsial
kompleks)
Kesadaran
terganggu hanya sebagian tanoa hilangnya ingatan dengan memperlihatkan perilaku
otomatis seperti gerakan menelan atau berjalan dalam lingkaran.
3. Obat-Obat
Epilepsi (Anti Konvulsi)Anti
epilepsi (Anti Konvulsi)
obat yang dapat mencegah timbulnya pelepasan muatan listrik
yang abnormal di pangkalnya (fokus) dalam SSP, sebagaimana halnya dengan
phenobarbital dan klonazepam. Ataupun obat yang menghindarkan tersebarnya
aktivitas berlebihan tersebut kepada neuron-neuron otak lain, seperti
Klonazepam, Fenitoin, dan trimetadon.
4.
Mekanisme Kerja Antiepilepsi (Anti Konvulsi)
Terdapat dua mekanisme antikonvulsi yang penting, yaitu :
1. Dengan mencegah timbulnya letupan
depolarisasi eksesif pada neuron epileptik dalam fokus epilepsi.
2. Dengan mencegah terjasinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi.
2. Dengan mencegah terjasinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi.
5. Penggunaan Antiepilepsi (Anti Konvulsi)
Antiepilepsi umunya memiliki lebar terapi yang sempit,
seperti Fenitoin, harus dengan teratur dan kontinu, agar kadar obat dalam darah
terpelihara sekonstan mungkin. Umumnya pengobatan dilakukan dengan dosis rendah
dulu kemudian dinaikan secara berangsur sampai efek maksimal tercapai dan kadar
plasma menjadi tetap.
Jangka waktu terapi umumnya bertahun-tahun bahkan bisa
seumur hidup. Bila dalam 2-3 tahun tidak terjadi serangan maka dosis dapat
diturunkan berangsur sehingga pengobatan dapat dihentikan sama sekali.
6. Penggolongan Antiepilepsi
Kebanyakan obat epilepsi bersifat antikonvulsif, yaitu dapat
meredakan konvulsi, dan sedatif (meredakan). Obat-obat ini dapat dibagi dalam
beberapa kelompok sbb :
1. Barbital-barbital, misalnya
Fenobarbital, Mefobarbital, dan Heptobarbital.
Obat tidur ini bersifat mnenginduksi enzim, hingga
biotransformasi enzimatisnya dipercepat, juga penguraian zat-zat lain, antara
lain penguraian vitamin D sehingga menyebabkan rachitis, khususnya pada anak
kecil.
2. Hidantoin-hidantoin, misalnya
Fenitoin,strukturnya mirip fenobarbital tetapi dengan cincin “lima hidantoin”.
3. Suksinimida-suksinimida,
misalnya Metilfenilsuksinimida dan Etosuksinimida.Obat ini
terutama digunakan pada serangan psikomotor.
4. Oksazolidin-oksazolidin,
misalnya Etadion dan Trimetadion, tetapi jarang digunakan mengingat efek
sampingnya berbahaya terhadap hati dan limpa.
5.
Serba-serbi,
misalnya Diazapam dan turunannya, Karbamazepin, Asetazolamid, dan Asam
Valproat.
7. Obat Generik, Indikasi, Kontra Indikasi, Efek Samping
7. Obat Generik, Indikasi, Kontra Indikasi, Efek Samping
1.
Fenitoin
(Ditalin, Dilantin)
Zat
hipnotik ini terutama efektif pada grand mal dan seranga psikomotor,
tidak untuk serangan-serangan kecil karena dapat memprofokasi serangan.
DS
: oral 1-2x sehari @ 100-300 mg.
Indikasi
: semua jenis epilepsi,kecuali petit
mal, status epileptikus
Kontra
indikasi : gangguan hati, wanita hamil dan menyusui
Efek
samping : gangguan saluran cerna, pusing nyeri kepala
tremor, insomnia.
2.
Penobarbital
Zat
hipnotik ini terutama digunakan pada serangan epilepsi Grand mal / besar,
biasanya dalam kombinasi dengan kafein atau efedrin guna melawan efek
hipnotisnya.
DS : oral 3 x sehari @ 25 – 75 mg maksimal 400 mg (dalam 2 dosis).
DS : oral 3 x sehari @ 25 – 75 mg maksimal 400 mg (dalam 2 dosis).
Indikasi
: semua jenis epilepsi kecuali petit mal, status epileptikus
Kontra
indikasi : depresi pernafasan berat, porifiria
Efek
samping : mengantuk, depresi mental
3.
Karbamazepin
Indikasi
: epilepsi semua jenis kecuali petit mal neuralgia trigeminus
Kontra indikasi : gangguan hati dan ginjal,
riwayat depresi sumsum tulang
Efek samping : mual,muntah,pusing,
mengantuk, ataksia,bingung
4.
Klobazam
Indikasi
: terapi tambahan pada epilepsy
penggunaan jangka pendek ansietas.
Kontra indikasi : depresi pernafasan
Kontra indikasi : depresi pernafasan
Efek
samping : mengantuk, pandangan kabur, bingung, amnesia
ketergantungan kadang-kadang nyeri kepala, vertigo hipotensi.
5.
Diazepam (valium)
Selain
bersifat sebagai anksiolitika, relaksan otot, hipnotik, juga berkhasiat
antikonvulsi.Maka digunakan sbg obat status epileptikus
dalam bentuk injeksi.
DS : oral 2 – 3 x sehari @ 2 – 5 mg
DS : oral 2 – 3 x sehari @ 2 – 5 mg
Indikasi
: status epileptikus, konvulsi akibat keracunan
Kontra
indikasi : depresi pernafasan
Efek
samping : mengantuk, pandangan kabur, bingung, antaksia,
amnesia, ketergantungan, kadang nyeri kepala.
6.
Primidon(Mysolin)
Strukturnya
mirip dengan fenobarbital dan di dalam hati akan dibiotrasformasi menjado
fenobarbital, tetapi kurang sedatif dan sangat efektif terhadap serangan grand
mal dan psikomotor.
DS : Dimulai 4 x sehari @ 500 mg, hari ke 4 250 mg dan hari ke 11 25 mg
DS : Dimulai 4 x sehari @ 500 mg, hari ke 4 250 mg dan hari ke 11 25 mg
7.
Etosuksinimid
(Zarontin)
Sangat
efektif terhadap serangan ringan,kerjanya panjang karena praktis tidak terikat
dengan protein, ekskresinya melalui ginjal.
DS
: 2 x sehari @ 250-500 mg,
8.
Karbamazepin
(Tegretol)
Senyawa
trisiklik ini mirip imipramin, Digunakan pada epilepsi grand mal dan psikomotor
dengan efektifitasnya sama dengan fenitoin tetapi efek sampingnya
lebih ringan.
DS : Dimimun dengan dosis rendah dan dinaikan berangsur-angsur sampai 2-3 x sehari @ 200-400 mg,
DS : Dimimun dengan dosis rendah dan dinaikan berangsur-angsur sampai 2-3 x sehari @ 200-400 mg,
9.
Asetazolamid
(Diamox)
Senyawa
sulfonamid ini bersifat merintangi enzim Carbonic Acid Dehidrase dan
sering digunakan sebagai diuretik. Khasiat anti konvulsinya diperkirakan
berdasarkan meningkatnya ekskresi ion natrium dan
bikarbonat serta darah bias
,menjadi asam. Digunakan pada serangan karena kerja fisik (berat).
DS : 2-4 x sehari @ 250 mg.
,menjadi asam. Digunakan pada serangan karena kerja fisik (berat).
DS : 2-4 x sehari @ 250 mg.
10.
Asam
Valproat, Depakene
Derivat
asam asetat ini daya anti konvulsinya ditemukan secara
kebetulan (Meunier-1963), sebagai obat pilihan pertama
pada serangan ringan, dalam kombinasi dengan obat
lain dapat digunakan untuk serangan grand mal.
DS : Dimulai 3-4 x sehari @ 100-150 mg, berangsur dinaikan sampai 2-3 x sehari @ 300-500 mg.
DS : Dimulai 3-4 x sehari @ 100-150 mg, berangsur dinaikan sampai 2-3 x sehari @ 300-500 mg.
2.5.3.7
Kejang Demam
Kejang demam adalah bangkitan kejang yg terjadi pd kenaikan
suhu tubuh (suhu rectal > 38 0C) yg disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium. Kejang demam biasanya terjadi antara umur 3 bln sampai 5
thn, kejang demam harus dibedakan dengan epilepsi (kejang berulang).
Kejang demam dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :
·
Sederhana
( kurang dari 15 menit)
·
Kompleks
(lebih dari 15 menit).
Demam sering disebabkan oleh infeksi pernafasan atas, otitis
media, pneumonia, gastroentritis, dan infeksi saluran kemih. Ada 3 cara
pengobatan Kejang Demam, yaitu :
1. Pengobatan fase akut
1. Pengobatan fase akut
Obat yg paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam
Intravena atau Intrarectal. Dosis iv 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dg kecepatan
1-2mg/menit. Bila kejang berhenti sebelum Diazepam habis, hentikanpenyuntikan,
tunggu sebentar dan bila tdk timbul lg jarum dicabut. Bila Diazepam iv tdk
tersedia bisa menggunakan intrarektal 5 mg (BB<10 kg) atau 10 mg (BB>10
kg). Bila kejang tdk berhenti dpt diulang selang 5 menit kemudian. Bila tdk
berhenti juga, berikan Fenitoin dg dosis awal 10- 20 mg/kgBB secara iv
perlahan.
Bila kejang berhenti dg pemberian Diazepam, lanjutkan dg
fenobarbital secara im (50 mg untuk bayi < 1 thn atau 75 mg untuk bayi >
1 thn), empat jam kemudian berikan fenobarbital dosis rumat. 2 hari pertama
berikan dosis 8 -10 mg/kgBB/dari dalam 2 dosis, selanjutnya 4-5 mg/kgBB/hari
dalam 2 dosis, selama blm membaik dapat diberikan dlm bentuk suntikan, tetapi jika
sudah membaik dpt diberikan per oral.
Bila kejang berhenti dgn pemberian Fenitoin, lanjutkan
dengan dosis 4-8 mg/kgBB/ hari dalam 2 dosis baik injeksi maupun oral.
2.
Mencari
dan mengobati penyebab.
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis, terutama pd pasien kejang demam yg
pertama. Kebanyakan dokter melakukan fungsi lumbal hanya pd kasus
yg dicurigai sebagai meningitis, misalnya bila ada gejala
meningitis atau bila kejang demam berlangsung lama.
3.
Pengobatan
Profilaksis.
ada 2 cara pengobatan profilaksis, yaitu :
a)
Profilaksis
Intermiten, yaitu diberikan Diazepam secara oral dgn dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/hari
dalam 3 dosis saat pasien demam. Dapat juga diberikan Diazepam intrarectal tiap
8 jam setiap pasien menunjukan suhu lebih dari 38,5 0C.
b)
Profilaksis
terus-menerus, yaitu diberikan fenobarbital 4-5 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis
selama 1-2 tahun setelah kejang berakhir. Bisa juga menggunakan Asam Valproat
(Depakene) dg dosis 15-40 mg/kgBB/hari. Cara pengobatan terus menerus diberikan
jika minimal terdapat 2 dari 4 kriteria dibawah ini :
·
Sebelum
kejang demam pertama sudah ada kelainan neurologis.
·
Kejang
demam lebih dari 15 menit, disertai kelainan neurologis sementara
atau menetap.
·
Ada
riwayat kejang tanpa demam pd orang tua atau saudara kandung.
·
Bila
kejang demam terjadi pd bayi kurang dari 12 bln atau
terjadi kejang multipel dalam satu episode demam
8.
Kejang Pada Kasus Eklampsia
Preeklampsia
adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan,
setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan.
Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai kejang dan atau koma yang timbul bukan akibat kelainan neurologis. Diagnosis eklampsia ditegakkan berdasarkan gejala-gejala preeklampsia berat disertai gejala nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium atau kenaikan darah yg progresif.
Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai kejang dan atau koma yang timbul bukan akibat kelainan neurologis. Diagnosis eklampsia ditegakkan berdasarkan gejala-gejala preeklampsia berat disertai gejala nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium atau kenaikan darah yg progresif.
Pada
kasus Eklampsia dapat diberikan MgSO42 gr/jam dalam drip infus Dextose 5% untuk
pemelihaan sampai sampai kondisi / tekanan darah stabil (140-150 mmHg).Bila
timbul kejang, berikan dosis tambahan MgSO4 2 gr iv sekurang-kurangnya 20 menit
setelah pemberian terakhir. Bila masih tetap kejang, berikan fenobarbital 250
mg im atau Diazapam 10 mg iv atau amobarbital 3-5 mg/kgBB iv
C. ANTIPIRETIKA
Definisi Obat
analgetik adalah obat penghilang demam yang banyak digunakan untuk mengatasi
demam tanpa menghilangkan kesadaran.
Macam-macam obat Antipiretik:
1.
Benorylate
Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan ester
aspirin. Obat ini digunakan sebagai obat antiinflamasi dan antipiretik. Untuk
pengobatan demam pada anak obat ini bekerja lebih baik dibanding dengan
parasetamol dan aspirin dalam penggunaan yang terpisah. Karena obat ini derivat
dari aspirin maka obat ini tidak boleh digunakan untuk anak yang mengidap
Sindrom Reye.
2.
Fentanyl
Fentanyl termasuk obat golongan analgesik narkotika.
Analgesik narkotika digunakan sebagai penghilang nyeri. Dalam bentuk sediaan
injeksi IM (intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang
disebabkan kanker.
Menghilangkan
periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan rasa sakit secara
menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang persisten/menetap. Obat
Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap menggunakan analgesik
narkotika.
Fentanyl
bekerja di dalam sistem syaraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit. Beberapa
efek samping juga disebabkan oleh aksinya di dalam sistem syaraf pusat. Pada
pemakaian yang lama dapat menyebabkan ketergantungan tetapi tidak sering
terjadi bila pemakaiannya sesuai dengan aturan.
Ketergantungan
biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara mendadak. Sehingga untuk
mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan dosis secara bertahap
dengan periode tertentu sebelum pengobatan dihentikan.
3.
Piralozon
Di pasaran piralozon terdapat dalam antalgin, neuralgin, dan
novalgin. Obat ini amat manjur sebagai penurun panas dan penghilang rasa nyeri.
Namun piralozon diketahui menimbulkan efek berbahaya yakni agranulositosis
(berkurangnya sel darah putih), karena itu penggunaan analgesik yang mengandung
piralozon perlu disertai resep dokter.
Jenis Obat Baru
Obat golongan Antiinflamasi non Steroid
1.Turunan
asam salisilat : aspirin, salisilamid,diflunisal.
2.Turunan
5-pirazolidindion : Fenilbutazon, Oksifenbutazon.
3.Turunan
asam N-antranilat : Asam mefenamat, Asam flufenamat
4.Turunan
asam arilasetat : Natrium diklofenak, Ibuprofen,
Ketoprofen.
5.Turunan
heteroarilasetat : Indometasin.
6.Turunan
oksikam : Peroksikam, Tenoksikam.
Indikasi, Kontra Indikasi serta
Efek Samping
1.
ALPHAMOL DROOP
ü
Kandungan :
Parasetamol 100 mg/mL.
ü Indikasi
: Obat
menurunkan panas dan menghilangkan rasa sakit/nyeri.
ü Kontra
indikasi : Hipersensitifitas.
2. A L P H A M O L
ü Sirup Tetes Mengandung : Parasetamol 100 mg/ml ; sirup : parasetamol
120 mg/ 5
ml,etanol 6%.
ü
Kaplet : parasetamol 600 mg.
ü
Indikasi
: Menurunkan panas , menghilangkan
rasa sakit.
ü Kontra
Indikasi
: Hipersensitivitas
3. ANALSPEC
250 MG
ü
Komposisi : Tiap kapsul mengandung 250 mg
asam mefenamat
ü
Indikasi
: untuk menghilangkan rasa nyeri
dari ringan sampai sedang dalam kondisi akut dan kronik, termasuk nyeri karena
trauma, nyeri sendi, nyeri otot, sakit sehabis operasi dan melahirkan, nyeri
sewaktu haid, sakit kepala dan sakit gigi dan juga sebagai antipiretik pada
keadaan demam.
ü Kontra Indikasi : Pada
penderita tukak lambung dan usus, penderita asma, penderita dengan gangguan
fungsi ginjaldan penderita yang hipersensitif terhadap asam mefenamat.
4. ANTALGIN
FM CAPLET
ü Komposisi
: Tiap tablet
mengandung Metampiron 500 mg
ü
Indikasi
:
Untuk meringankan rasa sakit terutama nyeri kolik dan sakit setelah
operasi.
ü Kontra Indikasi :
Penderita Hipersensitif
Bayi dibawah 3 bulan atau dengan berat badan kurang dari 5 kg,Wanita
hamil & menyusui Penderita dengan tekanan darah
sistolik kurang dari 10 mmHg
5. ANTIZA TABLET
ü Indikasi
: Untuk
meringankan gejala flu seperti demam, sakit kepala,
hidung tersumbat dan bersin-bersin yang disertai batuk.
ü Kontra Indikasi : -
Penderita dengan gangguan jantung dan diabetus melitu
- Penderita yang hipersensitif terhadap obat ini
- Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat
6.
ANTRAIN TABLET
ANTRAIN ® Tablet
ü Tiap tablet mengandung:
Na Metamizole
................................................ ...... 500 mg
ü
Indikasi
: Untuk mengurangi rasa sakit,
terutama di kolik
dan pascaoperasi.
ü Kontra Indikasi :
* Pasien yang diketahui hipersensitif terhadap
Metamizole Na.
* Hamil atau menyusui perempuan.
* Pasien dengan tekanan darah sistolik <100 mmHg.
* Bayi di bawah 3 bulan atau berat <5kg
7.
ASPILET THROMBO
ü Indikasi
: Pengobatan dan pencegahan
trombosis (agregrasi
platelet)
pada infark miokardial akut atau setelah stroke.
ü Kontra Indikasi :
- Pasien yang sensitif terhadap Aspirin.
- Pasien yang menderita asma, ulkus peptikum yang
sering atau kadang-kadang, perdarahan subkutan, hemofilia, trombositopenia.
- Pasien yang sedang diterapi dengan antikoagulan.
ü Efek Samping :
Iritasi lambung-usus, mual, muntah.
Penggunaan jangka panjang : perdarahan lambung-usus,
ulkus peptikum.
8. ASPIRIN
TABLET
ü
Komposisi :
Tiap tablet mengandung: Asam
asetilsalisilat/aspirin
500mg pereda rasa nyeri atau sakit, menurunkan demam
ü
Indikasi
:
Meringankan rasa sakit, nyeri otot dan sendi, demam,
nyerikarena haid, migren, sakit kepala dan sakit
gigi tingkat ringan hingga agak berat.
ü
Kontra Indikasi : Tukak lambung
dan peka terhadap derivet asam salisilat, penderita asma dan alergi, penderita
yang pernah atau sering mengalami pendarahan di bawah kulit,
penderitahemofilia;, anak-anak di bawah umur 16 tahun.
9. BETAMOL
TABLET 500 MG
ü
Indikasi :
Untuk meringankan rasa sakit pada keadaan sakit kepala, sakit gigi dan
menurunkan demam.
ü
Kontra indikasi :
·
Penderita gangguan fungsi hati yang berat.
·
Penderita hipersensitif terhadap obat ini.
10. NEFIDIPENE
ü
Indikasi pemberian nifedipine:
·
Pengobatan dan pencegahan insufisiensi koroner (terutama angina pektoris
setelah infark jantung) dan sebagai terapi tambahan pada hipertensi.
ü
Kontra Indikasi pemberian nifedipine:
·
Hipersensitivitas terhadap nifedipine.
·
Karena pengalaman yang terbatas, pemberian nifedipine pada wanita hamil hanya
dilakukan dengan pertimbangan yang hati-hati.
Peran
Hipotalamus sebagai thermostat
Hipotalamus adalah sebuah kawasan yang kompleks di otak
manusia, dan bahkan kecil inti dalam hipotalamus terlibat dalam banyak fungsi
yang berbeda. Inti paraventricular misalnya berisi Oksitosin dan vasopresin
(juga disebut antidiuretic hormon) neuron yang proyek untuk pituitari
posterior, tetapi juga mengandung neuron yang mengatur ACTH dan TSH sekresi
(yang proyek untuk pituitari anterior), lambung refleks, ibu perilaku, tekanan
darah, makan, respon imun, dan suhu.
Mengkoordinir hipotalamus banyak hormon dan perilaku ritme
sirkadian, pola yang kompleks neuroendocrine output, kompleks homeostatic
mekanisme dan banyak perilaku yang penting. Hipotalamus harus karena itu menanggapi banyak sinyal yang
berbeda, beberapa di antaranya dihasilkan eksternal dan beberapa internal. Jadi
kaya terhubung dengan banyak bagian dari sistem saraf pusat, termasuk
pembentukan reticular batang otak dan otonom zona, limbik otak-depan (terutama
amigdala, septum, diagonal band Broca, dan lampu Bulbus dan korteks otak
besar).
Hipotalamus
responsif terhadap:
*
Cahaya: daylength dan photoperiod untuk mengatur ritme sirkadian dan musiman
*
Penciuman rangsangan, termasuk feromon
*
Steroid, termasuk gonad steroid dan Kortikosteron
*
Neurally ditransmisikan informasi yang timbul khususnya dari hati, perut, dan
saluran reproduksi
*
Input otonom
*
Darah yang bertalian rangsangan, termasuk leptin, ghrelin, angiotensin,
insulin, pituitary hormon, sitokin, plasma konsentrasi glukosa dan osmolarity
dll
*
Stres
*
Menyerang mikroorganisme oleh peningkatan suhu tubuh, reset termostat tubuh ke
atas.
Penciuman rangsangan
Rangsangan penciuman penting untuk seks dan fungsi
neuroendocrine dalam banyak spesies. Untuk contoh jika mouse hamil terkena urin
seorang laki-laki yang 'aneh' selama masa-masa kritis setelah persetubuhan
kemudian kehamilan gagal (Bruce efek). Dengan demikian selama bersetubuh, mouse
perempuan membentuk tepat 'penciuman memory' dari pasangannya yang tetap selama
beberapa hari.
Pheromonal isyarat membantu sinkronisasi oestrus dalam
banyak spesies; pada wanita, haid sinkronisasi mungkin juga timbul dari
pheromonal isyarat, walaupun peran feromon pada manusia ini kini banyak
diragukan oleh banyak.
Darah yang bertalian rangsangan
Peptida hormon memiliki pengaruh
penting hipotalamus, dan untuk melakukannya mereka harus menghindari blood -
brain barrier. Hipotalamus dikelilingi sebagian oleh daerah otak yang khusus
yang kurang efektif blood - brain barrier; pengenduran kapiler di situs ini
fenestrated untuk memungkinkan bagian gratis bahkan besar protein dan molekul
lainnya. Sebagian dari situs ini adalah situs neurosecretion - neurohypophysis
dan eminensia rata-rata. Namun orang lain situs di mana otak sampel komposisi
darah. Dua dari situs ini, subfornical organ dan OVLT (organum vasculosum
lamina terminalis) adalah organ-organ yang disebut circumventricular, di mana
neuron berada dalam kontak intim dengan darah dan CSF. Struktur ini padat
vascularized, dan berisi osmoreceptive dan menerima natrium neuron yang
mengendalikan minum, vasopresin rilis, ekskresi natrium, dan natrium nafsu.
Mereka juga mengandung neuron dengan reseptor angiotensin, faktor natriuretic
atrial, endothelin dan relaxin, masing-masing penting dalam peraturan cairan
dan elektrolit keseimbangan. Neuron di OVLT dan SFO proyek supraoptic inti dan
paraventricular inti, dan juga untuk preoptic membantu daerah. Organ
circumventricular juga dapat tempat tindakan interleukin untuk memperoleh demam
dan sekresi ACTH melalui efek pada paraventricular neuron.
Ini tidak jelas bagaimana semua peptid yang mempengaruhi
aktivitas membantu mendapatkan akses yang diperlukan. In the case of prolaktin
dan leptin, ada bukti pengambilan aktif pada plexus choroid dari darah ke CSF.
Beberapa hormon pituitary memiliki umpan balik negatif yang mempengaruhi pada
sekresi membantu; sebagai contoh, hormon pertumbuhan feed kembali pada
hipotalamus, tapi bagaimana itu masuk ke otak adalah tidak jelas. Ada juga
bukti untuk tindakan pusat prolaktin dan TSH.
Hipotalamus berfungsi sebagai jenis termostat bagi tubuh.
Mengatur suhu tubuh yang diinginkan, dan merangsang produksi panas dan retensi
untuk menaikkan suhu darah tinggi pengaturan, atau berkeringat dan vasodilasi
untuk mendinginkan darah untuk suhu yang lebih rendah. Demam semua hasil dari
pengaturan yang dibesarkan di hipotalamus; suhu tubuh lebih tinggi karena
penyebab lainnya dikelompokkan sebagai hipertermia.
Daerah Daerah
Inti Fungsi
Anterior
Medial Medialis inti preoptic
*
kontraksi kandung kemih
*
Menurunnya denyut jantung
*
Penurunan tekanan darah
Inti
Supraoptic (SO)
*
Oksitosin rilis
*
vasopresin rilis
Paraventricular
inti (PV)
*
Oksitosin rilis
*
vasopresin rilis
Anterior
membantu inti (AH)
*
thermoregulation
*
-engah
*
berkeringat
*
inhibisi thyrotropin
Suprachiasmatic
inti (SC)
*
vasopresin rilis
*
Ritme sirkadian
Lateral
Inti preoptic lateral
Lateral
inti (LT)
*
kehausan dan kelaparan
Bagian
dari supraoptic inti (SO)
*
vasopresin rilis
Tuberal
Medial Dorsomedial membantu inti (DM)
*
Rangsangan GI
Inti
ventromedial (VM)
*
kenyang
*
kontrol neuroendocrine
Arcuate
inti (AR)
*
Lutenizing hormon R.H. rilis
*
Folikel merangsang hormon dilepaskan faktor
*
makan
*
Dopamin
*
GHRH
Lateral
Lateral inti (LT)
*
kehausan dan kelaparan
Inti
tuberal lateral
Posterior
Medial Mammillary inti (bagian tubuh
mammillary) (MB)
*
memori
Posterior
inti (PN)
*
Meningkatkan tekanan darah
*
pupillary pelebaran
*
menggigil
Lateral
Lateral inti (LT)
Indikasi dan Kontra Indikasi
Indikasi
dan kontra indikasi hormon tiroid dan paratiroid adalah……
Efekv
yang umum dari hormon tiroid adalah mengaktifkan transkripsi inti sejumlah
besar gen.
Efekv
hormon tiroid pada mekanisme tubuh yang spesifik meliputi peningkatan
metabolisme karbohidrat dan lemak, peningkatan kebutuhan vitamin, meningkatkan
laju metabolisme basal, dan menurunkan berat badan.
Efekv
pada sistem kardiovaskular meliputi peningkatan aliran darah dan curah jantung,
peningkatan frekuensi denyut jantu peningkatan pernafasan, peningkatan
motilitas saluran cerna, efek merangsang pada sistem saraf pusat (SSP),
peningkatan fungsi otot, dan meningkatkan kecepatan sekresi sebagian besar
kelenjar endokrin lainng, dan peningkatan kekuatan jantung
Efek samping dan gejala Toksin masing-masing
golongan
Barangkali
anda pernah mengalami saat-saati seperti ini, ketika tubuh terasa tidak segar
padahal baru bangun tidur. Saat dibawa melangkah dan beraktivitas pun rasanya
begitu berat. Anda memang tidak sakit, tapi juga tidak merasa benar-benar
sehat. Jika hal itu terjadi sudah tiba saatnya bagi anda untuk melakukan detoks
atau pembersihan racun tubuh. Di samping gejala-gejala tersebut masih ada
gejala lain bisa dijadikan pertanda bahwa detoks harus mulai dilakukan seperti
sakit kepala, berjerawat, kulit kusam dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Hipertensi adalah peningkatan
tekanan darah sehingga tekanan sistolik > 140 mmHg dan tekanan diastolik
> 90 mmHg (Kee & Hayes). Obat antihipertensi adalah obat yang digunakan
untuk menurunkan tekanan darah tingggi hingga mencapai tekanan darah normal.
Semua obat antihipertensi bekerja pada satu atau lebih tempat kontrol anatomis
dan efek tersebut terjadi dengan mempengaruhi mekanisme normal regulasi TD.
Anti konvulsan adalah suatu
kelompok obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati bangkitan epilepsi (epiletic seizure) dan bangkitan
non-epilepsi. AntiKonvulsi merupakan golongan obat yang
identik dan sering hanya digunakan pada kasus-kasus kejang karena Epileptik.
Oleh karena itu, anti konvulsi berhubungan erat dengan kasus
epilepsi. Pada penderita epilepsi, terkadang
sinyal-sinyal untuk menyampaikan rangsangan tidak beraktivitas
sebagaimana mestinya.
Umumnya
epilepsi mungkin disebabkan oleh kerusakan otak dalam process
kelahiran, luka kepala, strok, tumor otak, alkohol. Kadang
epilepsi mungkin juga karena genetik, tapi epilepsy bukan penyakit
keturunan. Tapi penyebab pastinya tetap belum diketahui. Pada
umunya sebagian obat antiepilepsi di metabolisme di hati, kecuali vigabatrin dangan
bapentin yang dieliminasi oleh ekskresi ginjal.Pentingnya pencegahan
dengan menangani obat dan pemeriksaan klinis yang
tepat dapat membantu penyembuhan penyakit ini
Antipiretik adalah obat yang
menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Jadi analgetik-antipiretik adalah obat yang
mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi.
Penggunaan obat Analgetik-Antipiretik pada saat mengandung
bagi ibu hamil harus diperhatikan. Ibu hamil yang mengkonsumsi obat secara
sembarangan dapat menyebabkan cacat pada janin. Sebagian obat yang diminum oleh
ibu hamil dapat menembus plasenta sampai masuk ke dalam sirkulasi janin,
sehingga kadarnya dalam sirkulasi bayi hampir sama dengan kadar dalam darah ibu
yang dalam beberapa situasi akan membahayakan bayi.
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar